Tuesday, February 1, 2011

Welcome to Me, Life, Love and Pasta :)

Hola.

Yup, posting pertama yang bisa dilihat di blog ini. Bukan karena blog ini baru, tapi gue udah nge-delete tiga post terdahulu.

Alasannya?

Blog ini udah gue bikin sejak 2 tahun yang lalu ( ya ampun, lama banget nggak diurus), tapi baru sekarang gue bisa mampir lagi di sini. Dan... setelah gue baca ulang postingan sebelumnya, kok kayaknya berasa garing abis. Kriuk kriuk. Oke, nggak segaring keripik kentang juga, sih. Tapi cukup lah untuk menuntun hati gue buat nge-delete mereka, uh oh..

Maka dari itu, gue bermaksud membangun kembali hubungan dengan... Umm, maksudnya mengisi kembali blog gue tercintah ini dengan segala apa yang mau gue ungkapkan. Gue merasa berdosa sama diri sendiri lantaran akhir-akhir ini sering banget ber-selftalking. Iya, itu loh.. ngomong sama diri sendiri. Ngomong dalem hati. Buah dari sesuatu yang tiba-tiba terlintas di otak atau hasil dari pemikiran-pemikiran gue sendiri setelah mengalami sesuatu, sehabis membaca buku atau bahkan setelah gue nonton sinetron. Huehehehe..

Tau Kenapa???

Karena oh karena.. (hiks...mendadak sendu), akhir-akhir ini begitu banyak hal yang gue alami. Yang mendorong....ehm, memaksa gue untuk berpikir. Ya sih, ga ada seorang pun di dunia ini yang nggak berpikir, tapi kan biar lebih dramatis gitu. Diantaranya, saat ini gue tengah mengerjakan tugas akhir kuliah gw (orang menyebutnya Skripsi) which is sangat menyita waktu, tenaga, pikiran bahkan emosi. Baiklah, emang nggak gue doang sih yang mengalami ini. So, bagi kalian yang sedang atau pernah melalui fase ini, tau lah rasanya. Beriringan dengan Skripsi things ini, banyak hal yang gue rasain, gue alami dan gue pelajari. Dan rasanya eneg banget nyimpen buat diri sendiri. Menurut pengalaman gue, memendam perasaan dan emosi dapat menyebabkan kegalauan yang tiada tara. Bisa aja mencari seseorang untuk diajak bicara. Tapi kadang, nggak semua orang bisa memberikan feedback sesuai yang kita harapkan. Sering gue mencoba berbagi dengan berharap mendapat dukungan secara moril (materil juga boleh. Hehe) , tapi yang gue dapet justru kritikan atau hujatan. Bukannya gue ga bisa terima kritikan. Tapi, hello... Liat sikon juga, kalii...

Atau kadang, nggak dikritik dan nggak dihujat, tapi... di-sok-tahu-in. Bingung? Iya sama, gue juga bingung gimana ngomongnya. Gue coba ya. Di-sok-tahu-in adalah suatu keadaan di mana elo, gue atau siapa pun diberi masukan (mereka menyebutnya begitu) dengan sederet kalimat super bijak dan 'sangat tahu' yang... sebenernya gak pas buat apa yang lagi elo, gue atau siapa pun hadapi. Kenapa? Karena, oknum tersebut memberi masukan tanpa menempatkan diri mereka sebagai kita. Dengan kata lain, mereka menyamaratakan perasaan kita semua. Duh, kalimat terakhir kedengeran kaya iklan layanan masyarakat. Mehehehe... Sampai mana tadi? Oh oke, menyamaratakan perasaan. Knock knock. Nggak semua orang memiliki pemikiran dan keadaan seperti elo. Walaupun nih yaa..kita sedang melalui kesulitan yang sama. Tapi nggak semua orang mengambil langkah yang sama dalam mencari jalan keluar. Ya nggak sih? Mungkin menurut elo pergi ke Rawamangun lewat jalur bebas hambatan lebih baik karena bisa cepat sampai tujuan. Tapi mungkin menurut orang lain, naik Transjakarta bisa jadi pilihan karena lebih hemat. Soal kekurangan dan kelebihan dari masing-masing pilihan, itu kan tinggal gimana cara mereka menilai. Dan setiap orang, memiliki hak dalam menentukan jalan mana yang ingin mereka tempuh.

Selama nggak merugikan orang lain, kenapa harus repot?

Well, intinya sih... Ini cuma pendapat gue aja. Setuju atau nggaknya, terserah aja. Sah-sah aja. :D

Udah Adzan Maghrib. Hatiku bergetar..(hehehe), ingin segera memenuhi kewajiban. See ya!!

Nb. Welcome to Me, Life, Love and Pasta :)

No comments: