Thursday, April 28, 2011

Spaghetti with Cheese & Spaghetti Bolognese

Assalamualaikum.

Siapa yang suka makaan?? (gue ngacung). Siapa yang suka makan pastaaa?? (ngacung lagi). Ahhehehe.. Semua orang pasti suka makan, dan banyak orang yang suka makan pasta, termasuk gue. Tapi...apakah semua penyuka pasta suka memasak? Yuk, yuk... Kita masak pasta yuk..

Pasta banyak macemnya, kawan. Paling tidak ada 56 macam pasta dan masing-masing bisa diolah menjadi hidangan yang berberbeda. Tapi ada beberapa jenis pasta yang paling familiar buat kita, yaitu Spaghetti, Fettucini, Macaroni, Ravioli, Lasagna dan Cennelloni. Semoga nanti gue bisa nulis sedikit tentang pasta-pasta ini, tapi sekarang gue mau ngajak teman-teman semua buat bikin macem-macem saus pasta.

Temen-temen pasti udah kenal banget sama Saus Bolognese kan? Saus ini paling sering digunakan sebagai saus Spaghetti di tempat-tempat makan di Indonesia. Saus yang kaya akan rasa tomat dan daging cincang ini memang paling pas dengan selera kita. Tapi, selain Spaghetti Bolognese, Spaghetti juga bisa diolah jadi Spaghetti with cheese, Spaghetti with tomato sauce dan Spaghetti Milanaise. Tapi kita juga bisa mengganti spaghetti dengan pasta-pasta lainnya loh.

Mulai dari Spaghetti with Cheese dulu ya.
Siapa yang suka keju, pasti suka makanan yang satu ini. Karena rasanya bener-bener keju dan citarasanya yang lebih kontinental. Bahannya cuma sedikit dan cara bikinnya gampang banget. Pas buat kalo lagi kelaperan dan males masak yang ribet-ribet.

Spaghetti with Cheese :

100 gr Spaghetti
25 gr Mentega / margarin
25-50 gr Keju parut
Garam, lada secukupnya

  1. Masukkan spaghetti ke dalam panci yang berisi air mendidih yang telah diberi garam. Rebus dengan api sedang.
  2. Aduk sesekali dengan sendok kayu. Masak selama 12-15 menit.
  3. Tiriskan.
  4. Pindahkan ke wajan, campur dengan mentega/margarin dan keju.
  5. Bumbui dengan garam dan lada sesuai dengan selera.


Spaghetti Bolognese

100 gr Spaghetti
25 gr Mentega/ margarin
50 gr Bawang bombay cincang
1 siung Bawang putih cincang
100 gr Daging cincang
125 gr Kaldu sapi
1 sdm Puree tomat (biasa dijual dalam kaleng)
100 gr Jamur (potong dadu)
Lada, Garam
Oregano

  1. Masukkan spaghetti ke dalam panci yang berisi air mendidih yang telah diberi garam. Rebus dengan api sedang.
  2. Aduk sesekali dengan sendok kayu. Masak selama 12-15 menit.
  3. Tiriskan.
  4. Panaskan mentega/margarin dalam saucepan.
  5. Masukkan bawang bombay dan bawang putih cincang, tumis hingga harum
  6. Masukkan daging, hingga matang dan berubah warna
  7. Tambahkan kaldu sapi, puree tomat dan oregano
  8. Masak dengan api kecil hingga mengental.
  9. Masukkan jamur , dan masak selama 5 menit. Bumbui dengan garam dan lada sesuai selera.
  10. Sajikan Spaghetti dengan Saus Bolognese dengan parutan keju.

Sekedar mengingatkan ya teman-teman... Resep Saus di atas bisa juga untuk dihidangkan bersama jenis pasta yang lainnya. Kalian tinggal mix& match aja kok. Asik kan? Cukup dulu ya postingan untuk hari ini.
Selanjutnya gue akan kasih resep Spaghetti with Tomato Sauce dan Spaghetti Milanaise, yang sedikit lebih ribet. Hehehe.

Selamat mencoba ya teman-teman. Semoga bermanfaat. :)

Wassalamualaikum.

Sumber : Practical Cookery, Ceserani and Kinton.

Tuesday, April 26, 2011

Keluargaku, Keluarga Cemara.

Assalamualaikum.

Ahh sudah lama sekali nggak mampir kesini. Alasannya? Hm, nggak ada. Hanya nggak mampir aja. Sebenernya dari kemarin-kemarin banyak banget yang mau di share di sini, tapi berhubung daya ingat gue agak2 lemah dan nggak ada inisiatif buat nyatet, makanya gue hanya akan nulis apa yang sekarang ada di ingatan gue :p

Gue akan mulai dari... *drumroll* *jengjeng*

Hari ini gue bener-bener nggak ada kerjaan. Seharian ini di rumah, nggak melakukan apa-apa kecuali kegiatan harian seperti makan, nonton TV, online dan syukur Alhamdulillah gue nggak lupa mandi. Anyway, gue mandi dua kali loh hari ini :)

Rencananya gue mau menjalankan program diet Low Carb High Protein nih. Gue lagi belajar mngkonsumsi sedikit bahan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi, dan memperbanyak konsumsi bahan makanan berprotein tinggi. Berhubung gue nggak tau harus olahraga apa untuk mengimbangi program diet ini, makanya gue cuma sit-up2 aja setiap hari. Ngaruh nggak ya?

Tapi Saudara-saudariku... my besties just come to ruin my program. Tieka sering banget dateng kerumah hanya untuk mengajak gue…makan di luar. Baiklah, gue ngikut, karena gue emang paling susah menolak ajakan jajan. Tapi bagian yang tersulit adalah, memilih satu di antara sederetan menu yang sangat menggiurkan di warung sea food depan rumah gue. Jadilah.. pilihan gue tiap malam-malam-sesat itu Capcay goreng atau kadang cah kangkung. Belagu banget nggak sih gue?

Tapi bener deh, paling nggak nih ya, gue ada usaha untuk terlihat ideal. Karena kalo diliat-liat, sekarang orang-orang di sekitar gue juga udah nggak se-ideal dulu. Hihihi. Misalnya, kakak gue. Dulu mbak Ayu ini orangnya mungil abis, dan setiap orang yang baru kenal sama Kami berdua, pasti heran kenapa adiknya lebih besar dari kakaknya. Gue sendiri bingung harus seneng karena dianggap lebih dewasa dari umur gue yang sebenernya atau justru miris karena…yeah, badan gue lebih besar dari kakak gue.

Anyway, gue kangen kalo inget masa-masa itu. Masa di mana gue dan keluarga masih berkumpul di rumah ini. Masa di mana anggota keluarga gue masih lengkap. I just missing you, Bapak.

Dulu gue selalu jadi bulan-bulanan kakak-kakak gue, karena gue sasaran paling empuk (ini konotasi, bukan ‘empuk’ yang sebenarnya) buat diledekin, yang pastinya akan menyebabkan rumah ini berisik dengan jeritan histeris gue dan tangisan gue dimana kakak-kakak gue malah akan semakin senang. Haha. Tapi kalo lagi akur, gue seneng banget begadang sama Mas Adhi, nonton TV, dengerin Slank live di I Like Monday’nya Hard Rock FM, malah kadang jam 11 malem beli sate di luar. Saat itu gue masih SD, makanya istimewa banget keluyuran jam segitu.

Saat itu, Mbak Ayu masih kuliah dan masih banyak waktu buat main-main di rumah. Dulu jamannya nyari lirik lagu favorit buat dicatet di Binder atau Organizer. Kalo Mbak Ayu pulang kuliah, biasanya gue diajarin nyanyi lagu-lagu barat sambil di jelasin apa artinya. Yang gue inget, waktu itu Mbak Ayu ngajarin gue lagu My Heart Will Go On, I Will Survive sama Life Goes On nya Leann Rimes. Sepele ya, tapi gue kangen masa-masa itu.

Masa-masa di mana Bapak hobi ngajak makan di luar. Bukan karena pengen makan di luar, tapi lebih karena beliau pengen jalan-jalan sama Kami. Gue kangen beliau, gue kangen perut buncitnya, gue kangen humornya yang seringkali jayus, gue kangen sifatnya yang sok-kenal-sok-deket sama semua orang yang baru ditemuinya.

Sekarang di rumah ini cuma ada gue sama Ibu. Ibu yang sekarang sudah nggak sesehat dulu, Ibu yang harus gue jaga setiap waktu, Ibu yang selalu gue khawatirkan. Seolah gue nggak mau kehilangan siapapun lagi dalam hidup gue.Love you, Mom... :*

Pernah gue berpikir bahwa ditinggalin pacar, kekasih atau apalah itu namanya, akan membuat hidup seseorang berantakan, sengsara, hancur lebur dsb.

Tapi kemudian, peristiwa ini terjadi. Peristiwa di mana seseorang dalam keluarga harus mengalami cobaan yang amat sangat tidak pernah kami duga sebelumnya. Gue tau, cobaan ini bukanlah semata-mata hukuman dariNya, tapi juga sebuah ujian seberapa besarkah cinta kami padaNya. Ketegarannya mengahadapi cobaan itu membuat dada gue sakit, karena disaat yang bersamaan justru gue yang takut. Keikhlasannya menghadapi cobaan ini membuat gue malu karena justru gue yang amat sangat khawatir.

Allah Maha Tahu, Allah Maha Adil. Hanya kepada Allah Kami semua berserah diri akan ujian ini.

Dan saat keadaan berangsur-angsur membaik, sekonyong-konyong gue semakin nggak mau kehilangan siapapun lagi.

Keluarga di mana gue dilahirkan adalah rumah yang nggak akan pernah gue tinggalkan. Keluarga nggak akan pernah mengkhianati Kita. Betul kan?

Naahh.. gue jadi sedih gini. Ya udah deh, sekarang kita berdoa aja yah semoga hidup kita bisa lebih baik lagi. Dan...semoga diet gue berhasil. Uhuyy... *sit-up*

Wassalamualaikum.

Tuesday, February 15, 2011

V'Day vs Mimpi

Assalamualaikum

Happy Valentine's Day bagi yang merayakan. Apa yang kalian lakukan hari ini, teman? Nge-date kah? Jalan-jalan kah? Nonton kah? Bikin kue kah?
Sama siapa? Pacar kah? Teman-teman kah? Atau keluarga? Siapa pun itu, semoga hari ini berkesan yah. Hmm..sementara, gue nggak melakukan hal yang spesial. Bukannya ngga mau ngerayain, tapi emang situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan bagi gue untuk merayakannya. Selain, bagi gue pribadi rasanya hari kasih sayang itu emang nggak harus ada tanggal 14 Februari aja. Lagipula, kemaren gue denger di radio, pas ada acara ceramah singkat gitu yang kebetulan ngebahas soal hari Valentine. Gue lupa detailnya gimana karena cuma dengerin sepintas lalu ajah. Tapi kuping gue menangkap satu kalimat yang membekas di pikiran gue. Si penceramah berkata bahwa merayakan Hari Valentine hukumnya haram bagi umat Muslim. Ehm. Wallahu A'lam.

Hari ini gue bangun siang seperti biasa, lalu melakukan rutinitas gue yaitu sarapan menjelang siang, nonton TV bareng Ibu dan tumben nih, gue mandi. Hehehe. Biasanya, kalo lagi liburan gue cuma mandi sekali aja dalam sehari. Biasanya sore doang. :p
Mungkin ada hubungannya sama Creme Bath yang baru gue beli seminggu lalu. Gara-gara sabun krim cair baru itu lah gue jadi rajin mandi.
Sorenya gue nemenin Ade booking tempat buat ultahnya besok. Tapi sayang, berhubung besok tanggal merah Maulid Nabi, jadi nggak bisa di booking tempatnya. Selebihnya, nggak ada yang spesial sih.

Sekarang, gue rebahan di kamar dengan nikmatnya. Di bawah AC, maenan bebe, pokoknya santai abis. Nah, posisi begini nih yang seringkali bikin gue galau mendadak. Kenapa? Karena gue jadi lebih punya banyak kesempatan untuk mikir. Sialnya, kali ini gue kepikiran si dia. Gue bingung harus nyebut dia apa. Pacar..tapi udah ngga pernah kontak lagi. Mantan, tapi nggak ada kata putus. Iya, gue digantung. Setidaknya, gue merasa digantung.

Gue emang udah bisa melalui badai hebat yang pernah menghantam gue setengah tahun lalu. Tapi gue juga nggak mau munafik dengan bilang bahwa gue udah bisa lupain dia. Nggak juga. Gue tau, ini udah jalan hidup gue. Allah pasti punya maksud baik untuk gue, dan apa yang terjadi harus gue syukuri. Allah tau yang terbaik bagi gue, sehingga mungkin aja Dia justru sedang menghindari gue dari sesuatu yang tidak baik. Atau, Allah hanya sedang menunda kebahagiaan gue, sedang menguji kesabaran gue, untuk kemudian menaikkan derajat gue dimataNya. Amin.
Tapi, tetep aja ada saatnya gue justru berharap ini adalah mimpi buruk gue yang panjang. Kemudian ada seseorang yang akan bangunin gue, atau ada suara musik tukang roti keliling yang menyadarkan gue dari tidur yang nggak nyaman ini. Gue berharap pas gue bangun, gue akan tetep baca sms-sms dia yang terkirim waktu gue udah tidur. Atau baca wall post dari dia di notification Facebook gue.
Gue berharap ini beneran mimpi.

Tapi nggak ya? Ini bukan blog dalam mimpi gue kan?

Baiklah, kalo gitu. Berarti gue harus kembali ke realita bahwa gue memang sedang disayang Allah dengan caraNya yang sungguh...hanya Dia yang tau.

Wassalamualaikum.

Nb. U're just too good to forget.

Wednesday, February 9, 2011

Sekedar Nyampah..pah..pah..

Assalamualaykum...

Mari kita nyampah sejenak. Membahas hal-hal yang nggak penting, tapi akan tetep gue bahas. Misalnya? Semalem gue mimpi dalam beberapa episode. Pertama pas gue tidur malem, kedua pas gue tidur setelah Subuhan. Tapi mimpi-mimpi gue itu lebih pantes disebut sebagai visualisasi dari harapan-harapan gue. Masa ya, gue ngimpi lagi main layangan di suatu pantai di Bali sambil menanti sunset yang indah terpampang di cakrawala. Kondisinya, matahari masih bersinar terik banget tapi udaranya sepoi-sepoi sehingga layangan gue terbang dengan indahnya. Gue lari-lari sambil megangin benang layangan kesana kemari dan ngarep difoto. Hahaha. Iya, bahkan dalam mimpi pun gue tetep sadar kamera. Najong yah.

Dan sayangnya, temenn gue main di mimpi (entah siapa itu) nggak bawa kamera. Terus gue dan dia pulang ke rumah buat ambil kamera sambil berpacu dengan waktu karena takut banget nggak sempet liat sunset. Entah gimana ceritanya, kamera udah ditangan dan Kami segera balik ke pantai naik sepeda. Seru banget kan? Sumpah. Di jalan, gue bawel banget nyuruh temen gue ngebut supaya ngga terlambat liat sunset dan gue bisa ngerasain gimana deg-degannya gue saat itu. Di mimpi itu gue yakin banget bisa ngejar sunset. Yakin banget. Sampai akhirnya, gue malah denger suara Adzan Subuh, dan sadar bahwa gue nggak lagi di pantai apalagi di Bali. Antiklimaks, teman-teman.

Dengan kecewa, gue bangkit dari kasur tercinta tempat dimana tadi gue sempet dibawa ke Bali. Gue Shalat, terus kembali ke pelukannya. Hah? Jangan tanya siapa ya. Kan tadi udah gue jelasin. Kasur. Gue mencoba tidur lagi dengan harapan bisa nyambung mimpi tadi. Siapa tau gue udah pindah pantai, ke Raja Ampat. Hihi. Ngarep. Ternyata oh ternyata, mimpi gue pagi tadi adalah... Jogging. Emang sih gue pengen bbanget jogging lantaran berat badan gue sekarang semakiinnn naik. Tapi ya nggak usah sampe ngimpi juga kali ya. Apa boleh buat, seumur hidup gue ini belom pernah sih berhasil request mimpi. Jadi, sukseslah gue jogging dalem mimpi. Surprisingly, gue jogging bareng Slank. Hahaha. Teman-teman, gue adalah Slanker. Dan gue, abis jogging bareng Kaka, Ridho, Ivan, Abdee dan Bimbim. Untung Bunda Iffet nggak ikutan ya....


So, beneran deh. Mimpi gue itu emang bener-bener keinginan gue. Berlibur, olahraga dan ketemu sama Slank. Oya, foto-foto juga. :P

Udah ah, cuma itu aja kok yang mau gue tulis. Berhubung gue lagi di Lab di kampus bareng temen-temen seperjuangan gue, sekarang saatnya main. oh nggak deh. Ngerjain tugas.

Wassalamualaykum :D

Saturday, February 5, 2011

Another Weekend with The Soekarnos Girls

Assalamualaykum...

Apa kabarnya Sabtu malam? Ada keriaan apakah di luar sana? Di sini, di rumah gue tercinta ini sih, seperti biasa. Ramai sama jejeritan dan tangisan sinetron favorit si Ibu, dan gue pun dengan rela juga ikhlas nemenin sekaligus ngikutin perkembangan ceritanya. Ehehehe... Itung-itung nebus dosa, udah seharian ninggalin Ibu di rumah sendirian lantaran gue hangout sama sepupu-sepupu dan salah seorang sahabat gue. Yak, pada akhirnya kesampean juga ke Taman Anggrek lagi, setelah berlama-lama menyusun rencana yang nggak juga terealisasikan. Tapi yah... Gagal maen ice skating. Kenapaaa???

Muka-muka gagal

Oh My God, gue dan yang lain harus mengurungkan niat untuk ber-ice skating ria dikarenakan... Antrianya nggak nahaaaannn. Sebenernya nih ya, bisa aja tetep main. Tapi gue dan yang lain udah nggak sabaran dan akhirnya malah cuma muter-muter Taman Anggrek yang segede gablek itu. Oke, kita sempet juga sih foto-foto dulu di luar ring ice skatingnya. Nggak apa-apa deh, dari pada nggak sama sekali.

Kalau sempet mikir kita cuma jalan-jalan aja, Kalian salah besar. Nggak mungkin lah seorang Indah gitu lohh..jalan-jalan seharian tanpa melakukan aktifitas yang satu ini. Bukan, bukan senam lantai. Gue nggak akan tahan sama yang namanya Mall, kalau nggak jajan! Pertama, makan makanan favorit gue, Kwetiau. Kali ini bukan Kwetiau kuah atau goreng biasa, tapi tadi kalo nggak salah sih namanya Kwetiau Siram Sapi Yam. Rasanya gurih-asem gitu. Mungkin sejenis Tom Yum kali ya? Enak sih, seger gitu, apalagi kuah yang disajikan terpisah itu. Rasa kaldunya mantep, trus aroma bawang putihnya juga ada, walaupun nggak terlalu menyengat. Ajib deh. Mbak Dina pesen semacam nasi rames gitu, ada ayam, empal dan sayur-sayuran gitu. Kalo Mbak Dian sama Tieka pesen Ayam penyet dan katanya sih, sambelnya pedes banget. Jadilah mereka megap-megap. Haha. Selamet ya.

Nggak berhenti di Food Court doang, menjelang pulang gue dan yang lain malah mampir k Pizza Hut. Hahaha..bener-bener deh....
Makan besar di Food Court

Pizza Hut (nggak ada tampang kenyang, ya?)

Senang, senang.... Walaupun kaki pegel nggak ketulungan (fyi, naik transjakarta pake wedges tuh capek banget, boy) tapi gue seneng. Rasanya plong banget ini hati. Emang deh, butuh refreshing juga sekali-sekali. Banyak ngobrol, jadi bisa mengalihkan pikiran gue dari hal-hal yang sering bikin hati gue jadi galau. Eh, lebay.

Ngomong-ngomong galau, gue jadi inget sama si Ujang, itu tuh temen yang gue ceritain di postingan sebelum ini. Dia request, namanya jangan Ujang, tapi Alex atau Robert. Gimana ya... Kalo Robert, kaya'nya bakalan mengingatkan gue sama vampir ganteng di Twilight deh. Itu tuh, Bang Robert Pattinson aka Edward Cullen. Jadi nggak deh, maaf yah. Kalo Alex... (mikir), baiklah. Sejauh ini nggak ada kenangan apa-apa sama yang namanya Alex. So, Jang...nama kamu hari ini Alex ya.

Si Alex kini udah berubah loh. Dia udah nggak galau. Dia udah melewati masa-masa durjananya. Teman-teman, Alex berhasil mengatasi permasalahannya! Selamet ya Lex. Jelex. :p

Ternyata kata-kata seorang temen gue waktu itu bener. Saat hubungan sama pacar elo udah mulai nggak harmonis, ada gunanya kalo elo cari arti diri elo bagi dia. Dia ngasih tau gue salah satu caranya, yaitu menghilang. Nggak lagi ngabarin dia, nggak lagi muncul di kehidupannya untuk waktu yang lama. Bikin tenggat waktu. Misalnya sebulan, dua bulan dan seterusnya. Kalo sebelum tenggat waktu elo itu berakhir dan dia udah nyariin, khawatir dan kangen sama elo, itu tandanya elo masih berarti buat dia. Tapi sebaliknya, kalo dia masih juga nggak perduli akan ketidakhadiran elo, well... Bisa jadi, elo emang udah nggak berarti apa-apa lagi buat dia. Tapi, jangan lupa buat mencari kejelasan setelah tenggat waktu elo habis. Itu berguna kalo elo nggak percaya seratus persen sama hasil penantian elo. Tapi menurut gue pribadi, itu nggak perlu. Karena udah jelas banget. If You Know What I Mean :)

Sekali lagi, selamet ya Alex. Kamu udah bisa ketawa-ketiwi lagi. Seneng deh. Dan teman-teman... sepertinya si Alex udah dapet fans barunya. Laku abis. Ngenes.

Baiklah, sekian cuap-cuap nggak jelas dari gue. mata mulai ngantuk, sinetron udah pada bubar dan besok gue mau kondangan. So, Goodnight everyone. Wish y'all have a nice weekend.

Wassalamualaykum...

Friday, February 4, 2011

Is It Love or Ambition?

Bonjour. Assalamualaykum.

Ini udah lewat jam dua belas malem, artinya sekarang udah pagi. Tapi mata gue nggak ngantuk sama sekali, berasa berat pun nggak. Beruntung tadi siang gue nggak jadi tidur, bisa-bisa gue malah masih nonton DVD nih sekarang. Tapi takdir berkata lain, Allah menuntun mata gue untuk nggak tidur siang, jadinya sekarang gue udah rebahan di kasur tersayang. Hanya saja... Tetep, nggak ngantuk.

Gue sambil sms'an sama temen dari dunia maya. Doi lagi curhat soal mantannya yang belum juga maafin dia. Konon katanya, si mantan lagi berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik di mata Allah. Maka, dia menghindar deh dari temen gue itu. Well, si temen gue itu, kita sebut aja namanya Ujang ya, sebenernya udah berusaha untuk nggak mengulangi kesalahannya. Ujang minta maaf tapi nggak diterima. Ujang berusaha untuk nemuin si mantan, tapi dia menghindar.


Bukankah, kita wajib untuk memaafkan saudara kita? Dan bukankah, kita berdosa kalau tidak menegur saudara kita lebih dari 3 hari?

Hhmm..jadi, apa motif si mantan yang sebenarnya? *mata dipicingkan* Wallahu a'lam.

Selain itu, si Ujang juga belum puas-puasnya ngejar si mantan. Apapun dilakukan supaya si mantan mau maafin. Ujang tau bahwa Allah akan selalu memberikan yang terbaik untuk umatNya. Tapi kenapa juga ujang bersikeras untuk tetap minta maaf sama dia?

Secara awam, gue punya beberapa kemungkinan.

  1. Pertama, Ujang masih sayang banget sama dia. Oke, yang ini pasti bakal langsung dijawab 'iya' sama Ujang.
  2. Kedua, Ujang cuma mau dirinya bener-bener dimaafin tanpa harapan balikan lagi.
  3. Ketiga, Ujang mau dua-duanya. Dimaafin, dan balikan.
  4. Keempat, Ujang yakin banget bahwa apa yang dia lakukan semata-mata karena dia sayang sama si mantan.

Tapi tunggu. Setelah gue ngetik alasan keempat, gue ngerasa ada sesuatu yang agak janggal. Bagaimana kita membedakan antara Sayang beneran dan Ambisi?

Pernah ya, kita liat atau malah mungkin dihadapkan dengan suatu keadaan dimana kita merasa harus memperjuangkan sesuatu atau (mungkin) seseorang karena kita butuh atau sayang. Kemudian merasa harus bertahan karena kita patut mendapatkan apa yang kita inginkan. Dengan usaha yang gigih, kerja keras, mempertimbangkan segala hal dan berdoa supaya bisa mencapai atau mendapatkan hal/orang itu. Lalu apa itu namanya?

Is it love or ambition?

Kita nggak pernah tahu, apakah setelah kita mendapatkan apa/siapa yang kita perjuangkan itu, rasanya akan tetap sama? Tetap menggebu-gebu kah? Tetap menggetarkan hati kah? Atau...Kita akan merasa cukup puas? Kemudian, membentuk ambisi yang baru?

Gue mau mikir dulu deh kalau gitu, apakah ini sayang beneran, atau ambisi karena belum juga bisa meraihnya?

Goodnight. Ehh..Goodmorning :p

Thursday, February 3, 2011

Arisan Cucu Eyang Soekarno

Gong Xi Fat Coi!!

Selamat Tahun Baru Cina yaa bagi yang merayakan dan Selamat hari libur bagi semua yang berlibur :D

Hari Kamis ini rasanya nggak biasa banget, malah tadinya gue kira ini hari Minggu. Yak, tanggal merah cyiinn... Orang-orang berlibur, jalanan padat, mall ramai dan gue..kumpul keluarga. Alhamdulillah, bisa kumpul-kumpul sama sepupu-sepupu dari keluarga besar Eyang Soekarno. Berdalih arisan keluarga, tapi intinya kita lagi mempererat silaturahmi loh. Alhamdulilah lagi nih ya, yang dateng di hari pertama arisan tadi banyak banget. Sebagian besar hadir, kecuali yang bener-bener berhalangan atau mereka yang ada di luar kota.


Me & My brother


Serunya, selain silaturahmi sambil arisan, pertemuan hari ini juga diwarnai dengan..dagangan. Hehehe... Ada yang dagang baju, aksesoris, kosmetik, sampai gantungan tas. pokoknya hari ini multifungsi banget deh. Entah laku atau nggak, yang penting eksis. Cihuy lah pokoknya.

Selain itu, di mana ada pertemuan keluarga di situlah terdapat banyak makanan. Dari makanan berat (makanan utama maksudnya, bukan meja), cemilan sampai minuman yang manis-manis. Hhmm.. susah deh nahan diri untuk nggak nyobain semua jenis panganan yang tersedia. Bagi yang diet, nangis aja deh mendingan. :P

Nggak cuma itu aja, cucu-cucu Eyang Soekarno ini makin erat satu sama lain karena punya banyak kesamaan. Sama-sama suka ngemil, suka ketawa-ketiwi dan suka banget difoto.Nah ,poin terakhir ini yang paling susah dipungkiri. Terbukti, di mana ada lensa kamera membidik, di situlah Kami bergaya. Maklum, jiwa model. Tampang sih nggak penting, yang penting kan jiwanya.Modal senyum, saling berdempetan dan badan agak dimiringin sedikit terus jepret! Jadi deh... :D


Cucu-cucu Pria


Cucu-cucu Perempuan


Well, gue seneng banget hari ini. Ketemu sama sepupu-sepupu, sepupu-mantu dan keponakan-keponakan yang ternyata jumlahnya makin bertambah. You're the next generation of The Soekarnos :D

Dan rencananya nih, Sabtu ini gue mau hangout bareng dua anggota The Soekarnos, Dina dan Dian. Nggak, mereka nggak kembar. Namanya aja mirip, orangnya sih beda jauh. Nggak usah tanya cakepan yang mana ya, karena gue pasti jawab cakepan gue. Bwahahahaha Piss, Sistas!
Semoga jadi deh hangout-nya. I need refreshing.

And I think, i need to take a bath.

Ciaoo, Goodbye, Au Revoir, Sayonara. Ma Bebi Bala-bala.

Tuesday, February 1, 2011

Chocolate Devil

Heyhoo... Yuk masak yukk...

Nih, gue mau berbagi suka sama kalian semua. Beberapa hari yang lalu, umur gue genap 23 tahun. Di hari spesial itu, gue melakukan hal yang istimewa juga. Gimana nggak? Lazimnya, orang yang sedang berulangtahun akan diberi surprise sama orang-orang tersayang, misalnya dibawain kado dan kue ulangtahun. Sedangkan gue? Bikin kue sendiri. Yak, teman-temaann... I made my own birthday cake.

Gak masalah, toh my besties dateng dan berbagi suka sama gue.
Talking-talking (baca: ngomong-ngomong) soal kue, gue nyoba bikin Chocolate Devil. Hasilnya? Bentuknya rada abstrak, tapi rasanya boljug bo. Paling nggak, Ibu bilang kue ini lebih enak daripada Tiramisu yang biasa gue bikin. Woohooo...

Resepnya? Cekidot...

Chocolate Devil


Cake :
200 gr gula pasir
6 btr telur
1 sdt TBM
200 tepung terigu
3 sdm cokelat bubuk
2 sdm susu bubuk (ayak bersama tepung terigu dan cokelat bubuk)
200 gr mentega (dicairkan)

Filling (Ganache) :
Simple syrup (Air Gula)
250 gr dark chocolate (dipotong-potong)
100 cc fresh milk
50 gr gula pasir

Coating :
100 gr dark chocolate
50 cc fresh milk

Hiasan :
Chocolate Candy

Cara Membuat :
  1. Kocok telur dan gula pasir dengan mixer selama 5 menit. Tambahkan TBM, kocok lagi sampai mengembang (adonan menjadi kuning pucat dan lembut)
  2. Masukkan campuran tepung (terigu, cokelat bubuk dan susu bubuk yang telah diayak) sedikit demi sedikit bergantian dengan mentega cair, aduk dengan spatula, ulangi hingga bahan habis.
  3. Masukkan adonan dalam loyang bulat (d=20cm) atau persegi (20x20cm) yang telah diolesi mentega.
  4. Kukus selama 30 menit (gue lebih suka kue yang dikukus karena lebih lembut)
  5. Setelah matang, dinginkan di suhu ruang
  6. Buat Filling : Masak susu dan gula pasir hingga hangat, masukkan dark chocolate. Aduk hingga mencair. Dinginkan hingga mengental seperti pasta.
  7. Slice cake menjadi 3 bagian. Basahi slice paling bawah dengan Simple syrup. Olesi Ganache.
  8. Letakkan Cake bagian tengah di atasnya. Basahi dengan simple syrup, olesi dengan Ganache.
  9. Tutup dengan cake bagian atas, basahi dengan simple syrup.
  10. Olesi permukaan dan bagian samping cake dengan sisa ganache hingga menutup cake.
  11. Siram bagian atas cake dengan Coating, hingga permukaan cake tertutup.
  12. Hias dengan Chocolate Candy.
Nahh... kalo udah jadi, dinginin di kulkas ya.

Sementara ini, resepnya Chocolate Devil dulu yah. Resep Pasta (my dear Pasta) menyusul.

Welcome to Me, Life, Love and Pasta :)

Hola.

Yup, posting pertama yang bisa dilihat di blog ini. Bukan karena blog ini baru, tapi gue udah nge-delete tiga post terdahulu.

Alasannya?

Blog ini udah gue bikin sejak 2 tahun yang lalu ( ya ampun, lama banget nggak diurus), tapi baru sekarang gue bisa mampir lagi di sini. Dan... setelah gue baca ulang postingan sebelumnya, kok kayaknya berasa garing abis. Kriuk kriuk. Oke, nggak segaring keripik kentang juga, sih. Tapi cukup lah untuk menuntun hati gue buat nge-delete mereka, uh oh..

Maka dari itu, gue bermaksud membangun kembali hubungan dengan... Umm, maksudnya mengisi kembali blog gue tercintah ini dengan segala apa yang mau gue ungkapkan. Gue merasa berdosa sama diri sendiri lantaran akhir-akhir ini sering banget ber-selftalking. Iya, itu loh.. ngomong sama diri sendiri. Ngomong dalem hati. Buah dari sesuatu yang tiba-tiba terlintas di otak atau hasil dari pemikiran-pemikiran gue sendiri setelah mengalami sesuatu, sehabis membaca buku atau bahkan setelah gue nonton sinetron. Huehehehe..

Tau Kenapa???

Karena oh karena.. (hiks...mendadak sendu), akhir-akhir ini begitu banyak hal yang gue alami. Yang mendorong....ehm, memaksa gue untuk berpikir. Ya sih, ga ada seorang pun di dunia ini yang nggak berpikir, tapi kan biar lebih dramatis gitu. Diantaranya, saat ini gue tengah mengerjakan tugas akhir kuliah gw (orang menyebutnya Skripsi) which is sangat menyita waktu, tenaga, pikiran bahkan emosi. Baiklah, emang nggak gue doang sih yang mengalami ini. So, bagi kalian yang sedang atau pernah melalui fase ini, tau lah rasanya. Beriringan dengan Skripsi things ini, banyak hal yang gue rasain, gue alami dan gue pelajari. Dan rasanya eneg banget nyimpen buat diri sendiri. Menurut pengalaman gue, memendam perasaan dan emosi dapat menyebabkan kegalauan yang tiada tara. Bisa aja mencari seseorang untuk diajak bicara. Tapi kadang, nggak semua orang bisa memberikan feedback sesuai yang kita harapkan. Sering gue mencoba berbagi dengan berharap mendapat dukungan secara moril (materil juga boleh. Hehe) , tapi yang gue dapet justru kritikan atau hujatan. Bukannya gue ga bisa terima kritikan. Tapi, hello... Liat sikon juga, kalii...

Atau kadang, nggak dikritik dan nggak dihujat, tapi... di-sok-tahu-in. Bingung? Iya sama, gue juga bingung gimana ngomongnya. Gue coba ya. Di-sok-tahu-in adalah suatu keadaan di mana elo, gue atau siapa pun diberi masukan (mereka menyebutnya begitu) dengan sederet kalimat super bijak dan 'sangat tahu' yang... sebenernya gak pas buat apa yang lagi elo, gue atau siapa pun hadapi. Kenapa? Karena, oknum tersebut memberi masukan tanpa menempatkan diri mereka sebagai kita. Dengan kata lain, mereka menyamaratakan perasaan kita semua. Duh, kalimat terakhir kedengeran kaya iklan layanan masyarakat. Mehehehe... Sampai mana tadi? Oh oke, menyamaratakan perasaan. Knock knock. Nggak semua orang memiliki pemikiran dan keadaan seperti elo. Walaupun nih yaa..kita sedang melalui kesulitan yang sama. Tapi nggak semua orang mengambil langkah yang sama dalam mencari jalan keluar. Ya nggak sih? Mungkin menurut elo pergi ke Rawamangun lewat jalur bebas hambatan lebih baik karena bisa cepat sampai tujuan. Tapi mungkin menurut orang lain, naik Transjakarta bisa jadi pilihan karena lebih hemat. Soal kekurangan dan kelebihan dari masing-masing pilihan, itu kan tinggal gimana cara mereka menilai. Dan setiap orang, memiliki hak dalam menentukan jalan mana yang ingin mereka tempuh.

Selama nggak merugikan orang lain, kenapa harus repot?

Well, intinya sih... Ini cuma pendapat gue aja. Setuju atau nggaknya, terserah aja. Sah-sah aja. :D

Udah Adzan Maghrib. Hatiku bergetar..(hehehe), ingin segera memenuhi kewajiban. See ya!!

Nb. Welcome to Me, Life, Love and Pasta :)